Ada yang bilang, nama adalah doa. Namun bagi Jan Lembana Bhre Segara Biru Shahwaiz, nama adalah rantai emas yang mengikat pergelangan kakinya pada ubin-ubin keraton yang dingin. Di bawah langit Ambarawa ia bermula, di antara silsilah yang ditulis dengan tinta emas dan ekspektasi yang setajam pisau bedah sang ayah.
Dunia mengenalnya sebagai Bhre—si bungsu yang santun dengan garis wajah ningrat yang tak bisa dibantah. Namun Jakarta mengenalnya sebagai Bana si peracik biji kopi.
Antara termodinamika di kampus Ganesha dan rahasia di balik mesin espresso, Bana sedang menulis ulang takdirnya. Ia adalah anak yang percaya bahwa kebebasan tidak datang dari melarikan diri, melainkan dari membuktikan bahwa ia bisa berdiri tegak tanpa bayang-bayang gelar di belakang namanya.
Ini adalah cerita tentang pulang dan pergi. Tentang seorang anak laki-laki yang mencoba menemukan harmoni di antara detak jantung yang ia pelajari dari ayahnya, dan detak mesin yang ia pilih sebagai jalannya sendiri.
Sebelum melangkah lebih jauh ke dalam semesta ini, mohon perhatikan beberapa maklumat berikut untuk kenyamanan bersama:
Panduan berinteraksi:
“Bana…” = Berada dalam karakter.
“/ Bana… ” = Berada dalam luar karakter.
“GAHARU” = Penulis yang mengambil alih.
Selamat datang di semesta Jan Lembana. Mari merajut cerita.